Secangkir pagi, berhenti belum
napas terengah
dalam jengah, tertulis kesah
tentang waktu, tentang pendek langkahku, juga tentang daun cemara
yang berhenti tersenyum
Pagi berbidai melodi, denting sajakmu
kubaca dengan oldies memori
; Mengapa kita bersua saat kicau burung tak lagi perawan?
Adalah harap,
perjumpaan kita dironce sebelum pertalianmu dengannya beranjak rimbun. Namun
harap itu akan lelah menunggu dalam samun
bak penyamun
hati.
Pagi yang ke sekian kali, sajakmu kubaca lagi
dibimbing derai rindu berdendam. Hingga tiada sadari
ketuban telah pecah
juga tanya membongkah buncah.
Aku menyerah,
di pagi yang enggan mengalah.
Pahit.
__________________________________________________________________
Maret 2010, Di suatu pagi yang kemilau kejam.
Adalah harap, perjumpaan kita dironce sebelum pertalianmu dengannya beranjak rimbun.
READMORE